Pertama kali James Gosling mengumumkan kehadiran Java, cukup banyak sambutan baik dari programmer di dunia. Dengan prinsip “write once running everywhere”, Java menjadi solusi yang hebat kala itu. Perkembangan dan kenaran Java kala itu sulit untuk dibendung, mulai banyak di adopsi oleh banyak perusahaan-perusahaan besar semisal IBM, SUN (yang kini almarhum). Seiring dengan berjalannya waktu, Java semakin mature. Java Virtual Machine (JVM) semakin hebat, waktu eksekusi program semakin cepat, bahkan menandingi kecepatan native language seperti C.
Sayangnya flatform yang hebat tidak disertai dengan perkembangan bahasa pemrograman java itu sendiri. Bahasa pemrograman java, seperti artis 70-an kini sudah tua, tidak lagi menarik untuk di pelajari. Perubahan besar terakhir terjadi sejak rilis nya Java versi 1.5, beberapa banyak feature baru di bahasa pemrograman java yang di tambahkan, sebut saja Generic dan Anotation. Walau cukup baik, tapi feature tersebut tidak lantas membuat bahasa pemrograman java kembali mempesona.
Pengembangan Java yang bersifat opensource membuat java banyak mendapat kontribusi dari komunitas. Antara lain, mulai banyaknnya porting bahasa pemrograman untuk di jalankan di atas JVM, sebut saja JRuby yang merupakan porting dari Ruby, Jython yang merupakan porting dari Python, lahir juga Groovy yang notabane nya terlahir untuk Java. Memang bahasa-bahasa tersebut cukup mempesona, tapi tidak lantas cukup untuk menggantikan bahasa pemrograman java, penyebab nya tidak lain adalah masalah performance dan scalability yang sulit untuk menyaingi program yang ditulis langsung menggunakan bahasa pemrograman java.
Adalah seorang Martin Odersky, sesorang yang sangat berpengaruh dalam dunia Java, pengembangan compiler untuk Java, yang juga menambahkan feature generic dan anotation pada Java versi 1.5, melakukan research untuk mengabungkan konsep Object Oriented Programing (OOP) dan Functional Programming (FP) dalam bahasa pemrograman baru yang berjalan di atas JVM, yang kemudian disebut Scala.
Scala sendiri merupakan singkatan dari Scalable Language. Seperti namanya, bahasa ini dibuat untuk menggantikan bahasa pemrograman java. Scala mengambil bagian tersetruktur dari OOP dan bagian expresif dari FP. Twitter, Foursqueare, LinkedIn, Sony, SAP dan juga Novel Vibe adalah beberapa contoh penggunaan scala secara besar. Maka tidak diragukan lagi bahwa memang Scala cukup ampuh untuk menggantikan bahasa pemrograman java.
Scala, seperti halnya bahasa pemrograman java, ketika di-compile akan menghasilkan byte code Java. Menariknya, hasil kompilasi Scala 100% compatible dengan hasil kompilasi bahasa pemrograman java. Hal ini memungkinkan class yang dibuat oleh bahasa pemrograman java bisa dipanggil langsung dari scala, dan demikian sebaliknya. Akibatnya, semua library Java yang jumlahnya sangat besar dapat dipakai oleh Scala. Menarik bukan?
Berikut contoh program ‘Hello World’ menggunakan Scala:
object HelloWorld {
def main(args: Array[String]) = println("Hello, world!")
}
Dan berikut, contoh quicksort menggunakan Scala:
def qsort: List[Int] => List[Int] = {
case Nil => Nil
case pivot :: tail =>
val (smaller, rest) = tail.partition(_ < pivot)
qsort(smaller) ::: pivot :: qsort(rest)
}
Sekian pengenalan singkat tentang Scala dari newbie, semoga bermanfaat..
Comments on: "Scala, calon kuat pengganti bahasa pemrograman java di atas flatform Java?" (5)
teknologi emang berkembang terus ya,,,
padahal sampai hari ini pun saya belum bisa menguasai java…
tapi sudah muncul bahasa yangakan menggantikannya
Scala itu hidup di lingkungan Java juga gan
wow
Bagus lah saya harap pake license GNU GPL
karena Java dah di makan sama Oracle
Org Biki Libre buat gantiin Oracle Open Office, MariaDb buat gantiin Oracle MySQL .. dan mudah2an yang ini bisa berkembang baik ..
Saya tetap mengakui bahasa C adalah bahasa yang tak pernah tergantikan. Bahasa yang gak akan ada yang bisa menyaingi. Karena yah itu tadi Java aja masih pakai barier apalagi Scala.
Kayaknya masih mending Ruby ketimbang Java.